Lebih dari 100 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM se-Bogor menggelar acara renungan malam di Simpang Tugu Kujang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/5) malam. Aksi ini untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei. Sambil menyalakan lilin, para mahasiswa juga menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.
Menurut mahasiswa, pendidikan di Indonesia kualitasnya semakin menurun. Terlebih, kondisi infrastruktur soal pendidikan juga kian kurang memadai. Karena itu, mereka menuntut pemerintah menciptakan pemerataan pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai prioritas, dan memberantas mafia pendidikan yang selama ini sering menghambat proses pendidikan yang matang.
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Penetapan 2 Mei sebagai Hardiknas didasarkan pada hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Nama aslinya Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (1889-1959). Dari sejarah singkat di atas diketahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah seorang pejuang, politikus, penulis, filsuf dan pendidik. Dengan demikian makna peringatan Hardiknas adalah “mengenang kembali sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara, menyerap sikap dan perilakunya dalam berjuang, mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan tugas dan fungsi kita masing-masing”.
KF/v/liputan6
Senin, 01 November 2010
Mahasiswa Malam Renungan di Tugu Kujang
Liputan6.com, Bogor: Lebih dari 100 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM se-Bogor menggelar acara renungan malam di Simpang Tugu Kujang, Bogor, Jawa Barat, Senin (1/5) malam. Aksi ini untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei. Sambil menyalakan lilin, para mahasiswa juga menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.
Menurut mahasiswa, pendidikan di Indonesia kualitasnya semakin menurun. Terlebih, kondisi infrastruktur soal pendidikan juga kian kurang memadai. Karena itu, mereka menuntut pemerintah menciptakan pemerataan pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai prioritas, dan memberantas mafia pendidikan yang selama ini sering menghambat proses pendidikan yang matang.
Aksi mahasiswa ini menjadi perhatian para pengendara hingga menimbulkan kemacetan panjang.(BOG)
Menurut mahasiswa, pendidikan di Indonesia kualitasnya semakin menurun. Terlebih, kondisi infrastruktur soal pendidikan juga kian kurang memadai. Karena itu, mereka menuntut pemerintah menciptakan pemerataan pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai prioritas, dan memberantas mafia pendidikan yang selama ini sering menghambat proses pendidikan yang matang.
Aksi mahasiswa ini menjadi perhatian para pengendara hingga menimbulkan kemacetan panjang.(BOG)
Renungan Malam Sambut Pendidikan Nasional
“Kegiatan kami malam ini bukan sebuah aksi, tapi merupakan renungan untuk merefleksikan pendidikan yang ada di Indonesia,” Hendra Etri Gunawan, Kordinator BEM se Bogor.
Jurnal Bogor.
Lebih dari seratus mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se- Bogor, Sabtu (1/5) tadi malam, menunduk sejenak dalam renungan menjelang hari pendidikan nasional (Hardiknas), Minggu (2/5) hari ini. Mereka satu suara dalam nyanyian bertemakan pendidikan, sambil menggenggam lilin.
Hendra Etri Gunawan Koordinator BEM se-Bogor menolak bila renungan tersebut dikatakan sebagai sebuah aksi.
“Kegiatan kami malam ini bukan sebuah aksi, tapi merupakan renungan untuk merefleksikan pendidikan yang ada di Indonesia,” katanya kepada Jurnal Bogor, sebelum memimpin orasi.
Kegiatan dimulai dengan berjalan kaki dari Masjid Raya pada pukul 19.30 WIB, kemudian renungan dipusatkan di Tugu Kujang hingga pukul 21.00 WIB. Dalam renungan tersebut, BEM se-Bogor ingin membangkitkan kembali semangat memperjuangkan pendidikan pada diri mahasiswa.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Djuanda (Unida) M. Nur Husna mengatakan, selain menggelar berbagai aksi, renungan dan mediasi, BEM se-Bogor pun berusaha meningkatkan taraf pendidikan dengan tindakan nyata. Tujuan utamanya untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai pendidikan.
“Ada dua bentuk perjuangan kami di bidang pendidikan, yakni cara vertikal diantaranya soal advokasi ke pemerintah, baik daerah maupun pusat serta horizontal melalui pengabdian kami kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf pendidikan dengan program Bogor Cerdas,” tandas Husna.
Jurnal Bogor.
Lebih dari seratus mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se- Bogor, Sabtu (1/5) tadi malam, menunduk sejenak dalam renungan menjelang hari pendidikan nasional (Hardiknas), Minggu (2/5) hari ini. Mereka satu suara dalam nyanyian bertemakan pendidikan, sambil menggenggam lilin.
Hendra Etri Gunawan Koordinator BEM se-Bogor menolak bila renungan tersebut dikatakan sebagai sebuah aksi.
“Kegiatan kami malam ini bukan sebuah aksi, tapi merupakan renungan untuk merefleksikan pendidikan yang ada di Indonesia,” katanya kepada Jurnal Bogor, sebelum memimpin orasi.
Kegiatan dimulai dengan berjalan kaki dari Masjid Raya pada pukul 19.30 WIB, kemudian renungan dipusatkan di Tugu Kujang hingga pukul 21.00 WIB. Dalam renungan tersebut, BEM se-Bogor ingin membangkitkan kembali semangat memperjuangkan pendidikan pada diri mahasiswa.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Djuanda (Unida) M. Nur Husna mengatakan, selain menggelar berbagai aksi, renungan dan mediasi, BEM se-Bogor pun berusaha meningkatkan taraf pendidikan dengan tindakan nyata. Tujuan utamanya untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai pendidikan.
“Ada dua bentuk perjuangan kami di bidang pendidikan, yakni cara vertikal diantaranya soal advokasi ke pemerintah, baik daerah maupun pusat serta horizontal melalui pengabdian kami kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf pendidikan dengan program Bogor Cerdas,” tandas Husna.
BEM se Bogor Gelar Malam Renungan Pendidikan
Koordinator aksi Hendra Etri Gunawan mengatakan, menjadikan UN sebagai indikator kelulusan bukan langkah yang tepat karena kondisi sarana pendidikan belum mencukupi.
Bogor, 1/5 (Antara/FINROLL News) - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa se-Bogor, Sabtu malam menggelar aksi damai malam berupa renungan hari pendidikan nasional.
Dalam aksi di Tugu Kujang itu, puluhan mahasisma dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) itu menggelar nyanyi bersama. Masing-masing mahasiswa membawa lilin, sehingga menambah khidmat malam renungan itu.
Mahasiswa juga berorasi, meminta pemerintah untuk meninjau ulang pelaksanaa ujian nasional UN).
Koordinator aksi Hendra Etri Gunawan mengatakan, menjadikan UN sebagai indikator kelulusan bukan langkah yang tepat karena kondisi sarana pendidikan belum mencukupi
"Apalagi jumlah guru di indonesia masih kurang, belum lagi sarana pendidikan di Bogor, di mana sekurangnya 247 bangunan SD dalam kondisi rusak berat. Bagaimana siswa bisa mencapai standar kelulusan jika fasilitas yang ada masih jauh dari standar. Jadi UN tidak bisa dijadikan standar utama kelulusan," katanya.
Selain melakukan orasi dan bernyanyi, mahasiswa juga menggelar penggalangan dana di jalan. Dana yang terkumpul nantinya, kata Hendra, akan disumbangkan untuk pembangunan perpustakaan.
Aksi mahasiswa menyebabkan ruas di Jalan Padjajaran macet. Kemacetan terjadi dari arah rumah dinas wali kota.
Bogor, 1/5 (Antara/FINROLL News) - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa se-Bogor, Sabtu malam menggelar aksi damai malam berupa renungan hari pendidikan nasional.
Dalam aksi di Tugu Kujang itu, puluhan mahasisma dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) itu menggelar nyanyi bersama. Masing-masing mahasiswa membawa lilin, sehingga menambah khidmat malam renungan itu.
Mahasiswa juga berorasi, meminta pemerintah untuk meninjau ulang pelaksanaa ujian nasional UN).
Koordinator aksi Hendra Etri Gunawan mengatakan, menjadikan UN sebagai indikator kelulusan bukan langkah yang tepat karena kondisi sarana pendidikan belum mencukupi
"Apalagi jumlah guru di indonesia masih kurang, belum lagi sarana pendidikan di Bogor, di mana sekurangnya 247 bangunan SD dalam kondisi rusak berat. Bagaimana siswa bisa mencapai standar kelulusan jika fasilitas yang ada masih jauh dari standar. Jadi UN tidak bisa dijadikan standar utama kelulusan," katanya.
Selain melakukan orasi dan bernyanyi, mahasiswa juga menggelar penggalangan dana di jalan. Dana yang terkumpul nantinya, kata Hendra, akan disumbangkan untuk pembangunan perpustakaan.
Aksi mahasiswa menyebabkan ruas di Jalan Padjajaran macet. Kemacetan terjadi dari arah rumah dinas wali kota.
Langganan:
Postingan (Atom)
