Powered By Blogger

Selasa, 02 November 2010

Mahagana Serahkan Bantuan Bencana

“Kami ingin berbagi dengan para warga di pengungsian. Maka dari itu kami mengadakan acara makan siang bersama, sehingga lebih terasa keakrabannya. Dalam acara makan siang bersama itu, tidak ada perbedaan antara kami, semua menyatu,” kata Ketua BEM se-Bogor Hendra Etri Gunawan kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Jurnal Bogor, 16 March 2010
Rubrik: Bogor Barat

Cigudeg - Badan Eksekutif Mahasiswa BEM se-Bogor Minggu (14/3) siang kemarin melaksanakan penyerahan bantuan langsung kepada korban bencana longsor di Kampung Cibugis, Kecamatan Cigudeng, Kabupaten Bogor. Bantuan tersebut langsung diserahkan kepada pengungsi yang langsung diterima oleh kepala desa setempat dan didampingi oleh Kasi Trantib Kecamatan Cigudeg Atep S Sumaryono.
Dalam penyerahan bantuan tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Tanggap Bencana (Mahagana) dan BEM se-Bogor mengandakan makan siang bersama para pengungsi di tenda pengungsian.

“Kami ingin berbagi dengan para warga di pengungsian. Maka dari itu kami mengadakan acara makan siang bersama, sehingga lebih terasa keakrabannya. Dalam acara makan siang bersama itu, tidak ada perbedaan antara kami, semua menyatu,” kata Ketua BEM se-Bogor Hendra Etri Gunawan kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Seusai menyantap makan siang dengan menu yang sederhana itu, mahasiswa berbincang-bincang dengan pengungsi yang diselingi canda dengan gelak tawa. “Kami mengajak masyarakat tidak trauma, karena musibah bisa menimpa siapa saja. Kami juga memberi semangat kepada mereka untuk tetap bertahan walau keadaannya sulit, karena Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya,” ungkap Hendra.
Mahasiswa yang tergabung dalam BEM se-Bogor dan Mahagana juga sempat meninjau lokasi longsor di Kampung Cibugis. Di lokasi longsor tersebut, mereka terlihat sangat bersimpati dengan kondisi Kampung Cibugis yang jauh dari akses ke jalan raya. “Wajar saja kalau mereka kesulitan. Karena itu, Pemkab Bogor harus menepati janjinya untuk merelokasi warga dari lokasi ini ke lokasi yang lebih layak,” tegas Hendra.
Hendra berjanji, dalam melaksanakan kegiatannya sekarang akan selalu mendekatkan kepada masyarakat dan bersahabat dalam semua kegiatan. “Kami ingin agar masyarakat tidak hanya menganggap para mahasiswa itu tukang berdemo. Mahasiswa juga bisa berbuat kegiatan sosial demi kemanusiaan,” pungkasnya.

=Muhammad Hafidh

76 Persen Mahasiswa Pertanyakan Kinerja BEM

“Selama ini orang cukup identik dengan BEM pelopor demo, namun jika di publikasikan lebih lanjut BEM berperan aktif di lingkungan masyarakat. Hal itu masuk dalam program mahasiswa tanggap bencana (mahacana),” ucap Hendra E.G. Kordinator BEM se Bogor.

Jurnal Bogor, 1 April 2010
Rubrik: Studenta

Tak heran jika di berbagai media massa kita menyaksikan mahasiswa berdemo mempersoalkan nasib bangsa dan Badang Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi salah satu pelopor pergerakannya. Namun cukup disayangkan keadaan tersebut dipertanyakan oleh banyak mahasiswa.

Tim Studenta menyebar kuisioner kepada 72 mahasiswa diberbagai perguruan tinggi Bogor. 76 persen mempertanyakan kinerja BEM sebagai aspirator mahasiswa di kampus. Ketika biaya semester yang trus melonjak setiap tahun, sarana dan prasarana kuliah yang belum menunjang hingga dosen ngaret, kepada siapa harus mengadu?

Sebagai kalangan eksekutif mahasiswa, BEM dikenal sebagai salah satu organisasi resmi yang berfungsi sebagai wadah pergerakan dan aspirasi mahasiswa di kampus. Dengan adanya BEM, diharapkan berbagai macam aspirasi yang muncul dari mahasiswa dapat tersampaikan dan terealisasi bukti nyatanya. Namun, apakah selama ini eksistensi BEM di mata mahasiswa sudah menjadi aspirator yang baik dalam mengurusi urusan internal kampus?

Rizki Praba, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai kinerja BEM sebagai wadah aspirator mahasiswa belum terlihat hasilnya. “Saya sendiri gak tau hasil dari apa yang dikerjakan BEM selama ini, mungkin mereka sudah mengerjakan sesuatu tetapi tidak terlihat kerjanya oleh mahasiswa yang lain,” tuturnya. Ia menambahkan, kinerja BEM sampai saat ini masih belum maksimal sebagai pembantu mahasiswa dalam urusan internal kampus. “Jangan ngurusin dunia luar aja dengan ikut-ikutan demo kalau bisa perhatikan juga urusan internal kampus seperti sarana dan prasarana kampus yang kurang baik,” tandasnya.

Sementara itu, Arini, mahasiswi IPB yang lain menganggap kinerja BEM selama ini telah cukup membantu mahasiswa. “Mereka cukup membantu ketika mempublikasikan informasi beasiswa, walaupun saya akui kinerja dari apa yang mereka kerjakan sebagai tempat penyampai aspirasi mahasiswa belum terlihat jelas hasilnya,” ucapnya. Ia pun tidak setuju jika BEM dihapuskan. “Saya sangat tidak setuju kalau BEM ditiadakan. Terus yang jadi aspirator mahasiswa siapa?” tanya perempuan berkacamata ini.

Ketua BEM se-Bogor, Hendra Etri Gunawan menilai kinerja BEM sebagai lembaga aspirator mahasiswa cukup efektif. Berbagai permasalah di kampus di-follow up oleh BEM kemudian diajukan penyelesainnya dengan berdiskusi dengan pihak rektorat. Namun kendalanya adalah selama ini sering terjadi miss communication antara BEM dan mahasiswa yang menyebabkan kinerja BEM dipertanyakan. Menurutnya, BEM merupakan lembaga resmi kampus yang berperan sebagai kontrol sosial. “Sebagai lembaga aspirasi mahasiswa, BEM sangat memperhatikan kepentingan mahasiswa. Misalnya dalam hal kebijakan kampus yang kurang berkenan bagi mahasiswa, BEM melakukan diskusi dengan rektorat untuk mencari jalan tengah dari permasalahan tersebut,” terang Hendra sapaannya.

Sebagai kordinator BEM se-Bogor yang baru, Hendra mengusung program kerja berbasis gerakan vertikal dan gerakan horizontal. Gerakan vertikal mengarah pada aksi dan audiensi, sedangkan gerakan horizontal merupakan bentuk nyata kepedulian BEM terhadap masyarakat.

“Selama ini orang cukup identik dengan BEM pelopor demo, namun jika di publikasikan lebih lanjut BEM berperan aktif di lingkungan masyarakat. Hal itu masuk dalam program mahasiswa tanggap bencana (mahacana),” ucap Hendra.

Kenis | Cipta
redaksi@jurnalbogor.com

Dukung Penolakan BHP !!!!

Menurut Hendra Etri Gunawan, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) jika BHP berlaku dikampus merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Jurnal Bogor, 8 April 2010
Rubrik: Studenta

Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang telah ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK) ternyata mendapat dukungan dari kebanyakan mahsiswa. Bagaimana tidak, kalau saja BHP diberlakukan di kampus, institusi tersebut akan meraup keuntungan yang sangat besar, sementara mahasiswa malah mendapat beban tanggungan biaya.

Sebuah kenyataan yang ironi. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, semua pihak harus peka dalam menyikapinya. Banyak Indikator yang semestinya kita bangun, mulai dari kemampuan ekonomi hingga output pendidikan yang seharusnya sebanding dengan keluarnya biaya.

Menurut Hendra Etri Gunawan, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) jika BHP berlaku dikampus merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. BHP tersebut dikatakan tidak sesuai dengan filosofi dasar pendidikan. Benarkah seperti itu?
Bukankah pendidikan berhak dimiliki oleh semua warga? Jika tidak, mau dibawa kemana bangsa kita karena selalu dipersulit dalam setiap kondisi. Kedepannya bisa saja lembaga pendidikan tidak bekerja sebagaimana fungsinya, tetapi hanya mencari profit semata.

Hendra menyimpulkan seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, dirinya amat mendukung penolakan BHP karena takutnya pihak kampus mudak menaikkan biaya pendidikan semau hati.

=Eka Ardhinie

Mahasiswa BEM se Bogor Bertahan di Jakarta

"Sebagian pulang untuk menyusun kekuatan dan menghimpun massa lainnya," kata Hendra.


Rabu, 03 Maret 2010 | 08:49 WIB

TEMPO Interaktif, BOGOR - Ratusan mahasiswa yang tergabung salam BEM se Bogor kembali akan mendatang gedung DPR RI, rabu (3/3).

Koordinator BEM se Bogor, Hendra EG, menjelaskan meskipun sebagian maha siswa sempat pulang ke Bogor, namun sebagian lagi masih bertahan di Jakarta. "Sebagian pulang untuk menyusun kekuatan dan menghimpun massa lainnya," kata Hendra.

Hendra menuturkan pada saat terjadi bentrokan pihaknya memilih mundur dengan rapi sehingga tidak ada yang luka. "Sempat ada insiden kami dilarang mundur oleh elemen yang lain, tapi bisa diatasi dengan damai," katanya.

Seperti hari sebelumnya, mahasiswa akan berangkat dari kampus masing-masing dengan menggunakan KRL. Hal tersebut untuk menghindari penghadangan dari pihak keamanan. "Kami akan bertemu di Departemen Kehutanan, selanjutnya berjalan bersama menuju DPR RI," ungkap Hendra.

Kedatangan mahasiswa ke gedung DPR RI untuk mengawal pansus angket Century, dengan mengusung empat tuntutan yakni, menindak lanjuti kasus Century ke proses hukum, bail out adalah tindakan yang salah, instansi penegak hukum harus berani memeriksa tokoh-tokoh yang terindikasi bersalah serta tokoh-tokoh yang bersalah diminta mengundurkan diri sebagai etika bernegara.


DIKI SUDRAJAT