Sebanyak 24,68 persen atau 267.013 rumah tangga atau lebih kurang 1.105.156 jiwa masyarakat di Kabupaten Bogor hidup di bawah garis kemiskinan, kata Menteri Kebijakan Daerah Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Hendra Etri Gunawan.
Kamis, 20 Mei 2010, 08:15 WIB
Sebanyak 24,68 persen atau 267.013 rumah tangga atau lebih kurang 1.105.156 jiwa masyarakat di Kabupaten Bogor hidup di bawah garis kemiskinan, kata Menteri Kebijakan Daerah Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Hendra Etri Gunawan.
'Berdasarkan Pendataan Program Layak Perlindungan Sosial (PPLS) dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor sebanyak 24,68 persen masyarakat Bogor hidup miskin,' katanya di Bogor, Rabu (19/5/2010).
Hendra yang juga mahasiswa semester enam Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengatakan, jumlah tersebut merupakan yang paling besar di antara kabupaten lain di Jawa Barat.
Ia menjelaskan, dari data BPS 2008, kepadatan penduduk Kabupaten Bogor adalah 1.5942 jiwa per kilo meter persegi.
Kepadatan penduduk tersebut, katanya, berdampak dalam penyediaan infrastuktur serta lapangan pekerjaan yang memadai dan menjadi beban dalam proses pembangunan.
'Jika berkualitas rendah akan meningkatkan kemiskinan di Kabupaten Bogor,' katanya.
Ia mengatakan, kemiskinan berdampak pada rendahnya kualitas pendidikan. Rendahnya pendidikan dikarenakan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM).
Rata-rata partisipasi pendidikan di Bogor adalah 7,2 tahun. Artinya, rata-rata warga Bogor hanya bisa bersekolah sampai kelas dua sekolah menengah pertama (SMP).
Menurut dia, penyebab rendahnya kualitas pendidikan karena keadaan infrastruktur pendidikan Kabupaten Bogor yang belum memadai.
'Kerusakan bangunan sekolah menjadi salah satu indikatornya. Banyak sekolah yang dibangun pada tahun 1970-an (masa Inpres) yang belum direnovasi hingga saat ini. Hal ini tentu saja berpengaruh luas terhadap kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Bogor,' katanya.(Afz/At/Jom)
Selasa, 02 November 2010
Macet, BEM Se-Bogor Sindir Pemkot
“Kemacetan seringkali dianggap sepele, padahal mengakibatkan kerugian. Ironisnya Kota Bogor menjadi kota percontohan transportasi oleh Departemen Perhubungan, jadi tidak sepatutnya kemacetan menjadi masalah klasik dikota ini,” ujar Koordinator BEM Se-Bogor, Hendra E.G.
Jurnal Bogor, 20 May 2010
Rubrik: BOGOR CENTRUM
Bogor - Puluhan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor melakukan aksi unjuk rasa di depan Tugu Kujang, Rabu (19/5). Aksi yang sempat menyebabkan arus lalulintas di sekitar Tugu Kujang tersendat itu berlangsung selama satu jam.
Dalam aksinya, pendemo menuntut kebijakan Pemerintah Kota Bogor agar serius menanggapi masalah kemacetan, pendidikan dan kemiskinan. “Kemacetan seringkali dianggap sepele, padahal mengakibatkan kerugian. Ironisnya Kota Bogor menjadi kota percontohan transportasi oleh Departemen Perhubungan, jadi tidak sepatutnya kemacetan menjadi masalah klasik dikota ini,” ujar Koordinator BEM Se-Bogor, Hendra.
Dia menambahkan, Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor, mahasiswa serta masyarakat, secara bersama-sama mencari solusi dari tiga permasalahan yang menjadi sorotan kota saat ini.
Meski aksi unjuk rasa tersebut tidak diwarnai dengan aksi anarkis, namun sedikitnya 40 personil aparat Kepolisian dari Polresta Bogor mengawal aksi tersebut.
=Bimo Tegar
Jurnal Bogor, 20 May 2010
Rubrik: BOGOR CENTRUM
Bogor - Puluhan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor melakukan aksi unjuk rasa di depan Tugu Kujang, Rabu (19/5). Aksi yang sempat menyebabkan arus lalulintas di sekitar Tugu Kujang tersendat itu berlangsung selama satu jam.
Dalam aksinya, pendemo menuntut kebijakan Pemerintah Kota Bogor agar serius menanggapi masalah kemacetan, pendidikan dan kemiskinan. “Kemacetan seringkali dianggap sepele, padahal mengakibatkan kerugian. Ironisnya Kota Bogor menjadi kota percontohan transportasi oleh Departemen Perhubungan, jadi tidak sepatutnya kemacetan menjadi masalah klasik dikota ini,” ujar Koordinator BEM Se-Bogor, Hendra.
Dia menambahkan, Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor, mahasiswa serta masyarakat, secara bersama-sama mencari solusi dari tiga permasalahan yang menjadi sorotan kota saat ini.
Meski aksi unjuk rasa tersebut tidak diwarnai dengan aksi anarkis, namun sedikitnya 40 personil aparat Kepolisian dari Polresta Bogor mengawal aksi tersebut.
=Bimo Tegar
Senin, 01 November 2010
Tiga Lokasi Demonstrasi di Kota Bogor
"Pemerintahan SBY telah gagal," kata Ketua BEM se- Bogor, Hendra Etri Gunawan.
Rabu, 20 Oktober 2010 | 11:56 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor - - Tiga titik lokasi di pusat Kota Bogor menjadi sasaran demonstrasi mahasiswa terkait satu tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Mahasiswa dari BEM se-Bogor, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), dan kelompok Cipayung bergerak menggunakan kendaraan roda empat, roda dua, serta berjalan kaki menuju Tugu Kujang di Jalan Pajajaran, Istana Bogor (Jalan Ir. H. Djuanda), serta kantor DPRD Kota Bogor (Jalan Kapten Muslihat).
Dengan membawa bendera kelompok masing masing, mereka meneriakkan tuduhan bahwa Yudhoyono dan Boediono antek-antek kapitalis dan imperialis. Enam tuntutan dilontarkan oleh mahasiswa, seperti mengembalikan kedaulatan bangsa, memberantas mafia hukum, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghentikan politisasi isu terorisme, menolak pembubaran Ahmadiah, serta memperbaiki sistem pendidikan nasional. "Pemerintahan SBY telah gagal," kata Ketua BEM se- Bogor, Hendra Etri Gunawan.
Rabu, 20 Oktober 2010 | 11:56 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor - - Tiga titik lokasi di pusat Kota Bogor menjadi sasaran demonstrasi mahasiswa terkait satu tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Mahasiswa dari BEM se-Bogor, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), dan kelompok Cipayung bergerak menggunakan kendaraan roda empat, roda dua, serta berjalan kaki menuju Tugu Kujang di Jalan Pajajaran, Istana Bogor (Jalan Ir. H. Djuanda), serta kantor DPRD Kota Bogor (Jalan Kapten Muslihat).
Dengan membawa bendera kelompok masing masing, mereka meneriakkan tuduhan bahwa Yudhoyono dan Boediono antek-antek kapitalis dan imperialis. Enam tuntutan dilontarkan oleh mahasiswa, seperti mengembalikan kedaulatan bangsa, memberantas mafia hukum, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghentikan politisasi isu terorisme, menolak pembubaran Ahmadiah, serta memperbaiki sistem pendidikan nasional. "Pemerintahan SBY telah gagal," kata Ketua BEM se- Bogor, Hendra Etri Gunawan.
Mahasiswa Demo "20.10.10" di Depan Istana Bogor
Koordinator BEM se- Bogor Hendra Etri Gunawan mengatakan, memperingati satu tahun SBY dan Boediono pihaknya menuntut SBY dan Boediono untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam hal ketersediaan, konsumsi dan distribusi dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia.
Rabu, 20/10/2010 - 19:10
BOGOR, (PRLM).- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Pakuan (Unpak) Kota Bogor, melakukan aksi unjuk rasa di depan istana Bogor, Rabu (20/10). Dalam aksinya tersebut, selain membawa berbagai poster, juga membakar ban di tengan jalan. Akibatnya, jalan raya di sekitar Istana Bogor macet.
Dalam aksi tersebut sempat terjadi ketengan petugas dari kepolisian dari Polres Kota Bogor dengan mahasiswa ketika memadamkan api dari ban. Mahasiswa marah ban yang dibakar itu langsung dipadamkan oleh petugas. Sementara, Istana Bogor dipagar betis oleh ratusan anggota Polres Kota Bogor untuk menghadang ratusan mahasiswa yang hendak masuk ke dalam.
Koordinator BEM se- Bogor Hendra Etri Gunawan mengatakan, memperingati satu tahun SBY dan Boediono pihaknya menuntut SBY dan Boediono untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam hal ketersediaan, konsumsi dan distribusi dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia.
Selain itu, mendesak pembangunan ekonomi yang berkualitas dengan berasakan keadilan dan pemerataan,"Kami juga mendesak penyelesaian hukum kasus century, kriminalitas KPK, rekening gendut kepolisian serta pelanggaran HAM," ujarnya.
Hendra mengatakan, pihaknya menuntut pemerintah untuk melakukan transparansi dan perbaikan dalam pengelolaan energi nasional. "Jika tidak ada yang menemuinya, kami akan masuk kedalam istana Bogor,"tegasnya
Sementara, di depan kampus Universitas Islam Ibnu Khaldun (UIKA) jalan Soleh Iskandar, mahasiswa dalam aksinya sempat menghadang sejumlah kendaraan berpelat nomor merah, sehingga aksi tersebut mengakibatkan terjadinya keributan dan kemacetan di jalan. Malahn, dilakukan penghadangan terhadap mobil tangki gas elpiji yang kebetulan lewat.
Menurut seorang pengunjungrasa David, aksi yang mereka lakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan saat ini yang tidak terbukti bisa mensejahterakan rakyat sebagaimana dijanjikan dulu. “Kami mahasiswa pemerintahan sekarang tidak berhasil mensejahterakan masyarakat. Bahkan timbul berbagai persoalan yang tidak terselesakan,” katanya.
Aksi penghadangankendaraan tersebut berakhir setelah mahasiswa yang demo di depan UIKA berjalan kaki ke istana Bogor bergabung dengan pengunjukrasa lain. (A-134/das)***
Rabu, 20/10/2010 - 19:10
BOGOR, (PRLM).- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Pakuan (Unpak) Kota Bogor, melakukan aksi unjuk rasa di depan istana Bogor, Rabu (20/10). Dalam aksinya tersebut, selain membawa berbagai poster, juga membakar ban di tengan jalan. Akibatnya, jalan raya di sekitar Istana Bogor macet.
Dalam aksi tersebut sempat terjadi ketengan petugas dari kepolisian dari Polres Kota Bogor dengan mahasiswa ketika memadamkan api dari ban. Mahasiswa marah ban yang dibakar itu langsung dipadamkan oleh petugas. Sementara, Istana Bogor dipagar betis oleh ratusan anggota Polres Kota Bogor untuk menghadang ratusan mahasiswa yang hendak masuk ke dalam.
Koordinator BEM se- Bogor Hendra Etri Gunawan mengatakan, memperingati satu tahun SBY dan Boediono pihaknya menuntut SBY dan Boediono untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam hal ketersediaan, konsumsi dan distribusi dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia.
Selain itu, mendesak pembangunan ekonomi yang berkualitas dengan berasakan keadilan dan pemerataan,"Kami juga mendesak penyelesaian hukum kasus century, kriminalitas KPK, rekening gendut kepolisian serta pelanggaran HAM," ujarnya.
Hendra mengatakan, pihaknya menuntut pemerintah untuk melakukan transparansi dan perbaikan dalam pengelolaan energi nasional. "Jika tidak ada yang menemuinya, kami akan masuk kedalam istana Bogor,"tegasnya
Sementara, di depan kampus Universitas Islam Ibnu Khaldun (UIKA) jalan Soleh Iskandar, mahasiswa dalam aksinya sempat menghadang sejumlah kendaraan berpelat nomor merah, sehingga aksi tersebut mengakibatkan terjadinya keributan dan kemacetan di jalan. Malahn, dilakukan penghadangan terhadap mobil tangki gas elpiji yang kebetulan lewat.
Menurut seorang pengunjungrasa David, aksi yang mereka lakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan saat ini yang tidak terbukti bisa mensejahterakan rakyat sebagaimana dijanjikan dulu. “Kami mahasiswa pemerintahan sekarang tidak berhasil mensejahterakan masyarakat. Bahkan timbul berbagai persoalan yang tidak terselesakan,” katanya.
Aksi penghadangankendaraan tersebut berakhir setelah mahasiswa yang demo di depan UIKA berjalan kaki ke istana Bogor bergabung dengan pengunjukrasa lain. (A-134/das)***
Langganan:
Postingan (Atom)
